Sidang Isbat, KHGT: Menenun kebersamaan esensial di bawah langit yang sama
Padang-Sejak fajar peradaban Islam menyingsing, waktu bukan sekadar deretan angka yang berputar tanpa makna, melainkan manifestasi dari keteraturan Ilahi. Di dalam dada setiap muslim, penentuan bulan baru—khususnya Ramadhan, Syawal dan Zulhijah—adalah panggilan spiritual yang menggetarkan jiwa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah, ‘Itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji...’" (QS. Al-Baqarah [2]: 189).
Ayat ini menegaskan secara filosofis bahwa hilal diciptakan sebagai kompas universal, sebuah jembatan yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya melalui ritual ibadah, sekaligus pengatur ritme sosial kemanusiaan.
Secara normatif, Rasulullah SAW juga memberikan panduan praktis yang bersifat empirik pada zamannya melalui sabda beliau: "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berharilah raya karena melihatnya. Jika hilal tertutup awan, maka sempurnakanlah hitungannya." (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah meletakkan dasar pengamatan (rukyat) sebagai metode empiris yang sesuai dengan kapasitas umat saat itu.
Namun, di era kontemporer, teks suci dan hadis tersebut menuntut kita untuk membaca tanda-tanda zaman secara lebih luas. Menatap langit malam hari ini tidak lagi hanya dengan mata telanjang yang terbatas oleh kabut, mendung, dan lengkung bumi, melainkan dengan ketajaman mata sains dan teknologi (iptek).
Fikih kontemporer nusantara
Di kawasan nusantara, khusus MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), penentuan awal Ramadhan, Syawal, Zulhijjah dan Muharram Tahun Hijriah, selalu mempertemukan dua kutub pemikiran yang dinamis. Di satu sisi, terdapat kutub pemerintah yang setia pada metode imkanurrukyat (visibilitas hilal) melalui mekanisme Sidang Isbat.
Sejak tahun 1992, negara-negara MABIMS telah mengadopsi kriteria ini secara empiris. Berdasarkan data astronomis terbaru, MABIMS menerapkan parameter ketat "2-3-8"—yaitu tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Kriteria ini adalah upaya ilmiah pemerintah untuk meminimalkan subjektivitas dalam pengamatan hilal lokal.
Di kutub lain, organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah bergerak lebih progresif dengan mengusung konsep wujudul hilal yang bertransformasi menjadi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Secara filosofis, KHGT memegang prinsip "satu hari, satu tanggal" secara serentak di seluruh muka bumi. Peradaban Islam modern tidak lagi bisa dibatasi oleh sekat-sekat matlak (zona rukyat) lokal yang sempit.
Berbekal hisab hakiki yang didukung teknologi komputasi astronomi tingkat tinggi, KHGT mampu memproyeksikan penanggalan Islam hingga puluhan tahun ke depan tanpa harus menunggu ketidakpastian cuaca di akhir bulan.
Data empiris dan realitas global
Mari dibedah data empiris pada musim haji 1447 H / 2026 M ini. Terdapat arus besar pergerakan manusia sebanyak 253.594 jemaah haji dari Asia Tenggara yang bergerak menuju tanah suci Makkah. Mereka bergerak bersama dengan perkiraan total jemaah haji sedunia pada musim haji 2026/1447 H berada di kisaran 1,5 hingga 1,8 juta jemaah.
Berdasarkan kalender Ummul Qura yang berbasis hisab astronomi di Arab Saudi, puncak ibadah haji atau wukuf di Arafah (9 Zulhijah) diperkirakan jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026, sehingga Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Perhitungan dari sistem KHGT pun menghasilkan tanggal yang presisi dan selaras dengan perkiraan global tersebut: 1 Zulhijah 1447 H: Senin, 18 Mei 2026 ; Hari Arafah (9 Zulhijah): Selasa, 26 Mei 2026 ; Iduladha 1447 H (10 Zulhijah): Rabu, 27 Mei 2026 ; Tahun Baru Islam 1448 H: Selasa, 16 Juni 2026 .
Meskipun secara de jure Mahkamah Agung Arab Saudi tetap akan mengumumkan keputusan resmi setelah melakukan rukyat fisik di akhir bulan Zulkaidah, sinkronisasi data astronomis ini menunjukkan bahwa iptek modern memiliki akurasi yang luar biasa dalam memetakan orbit bulan.
Perbedaan, Menenun Kebersamaan
Perbedaan antara rukyat lokal dan hisab global bukanlah jurang pemisah, melainkan simfoni pemikiran yang memperkaya khazanah Islam. Jika Sidang Isbat di Nusantara adalah wujud kehati-hatian spiritual dalam menghargai bumi tempat berpijak, maka KHGT adalah bentangan sayap peradaban yang memandang bumi sebagai satu kesatuan utuh di bawah naungan langit yang sama.
Waktu terus bergulir, memahat takdir di atas sajadah sejarah. Ketika jemaah haji melantunkan kalimat Talbiyah di padang Arafah yang gersang, getarannya harus mampu menembus batasan geografis dan perbedaan metode penanggalan.
Kebersamaan esensial tidak terletak pada keseragaman mata memandang bulan sabit di ufuk barat, melainkan pada kesatuan hati yang rida bersujud menghadap Ka’bah yang satu. Pada akhirnya, baik melalui ketukan palu Sidang Isbat pemerintah maupun kepastian matematis KHGT, esensi Idul Adha adalah pengorbanan, keikhlasan, dan persatuan umat yang takkan luntur oleh perbedaan derajat tinggi hilal.
Shofwan Karim
(Pengamat, penulis esai dan dosen pascasajana Universitas Muhammadiyah Sumbar)
Editor: Frisnews.com
