Krisis, kesadaran, dan jalan kemandirian

Shofwan Karim
Shofwan Karim Kontributor
15 Mei 2026 • 76 Pembaca
Krisis, kesadaran, dan jalan kemandirian
📸 Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumbar)
olret.com

Sejarah sering kali berulang, meski dengan wajah berbeda. Dunia kini seakan mundur ke abad lalu, berada di ambangkrisis panjang. Timur Tengah kembali menjadi panggungutama, dengan konstelasi AS–Israel versus Iran yang jauh dari ideal damai.

Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal gencatan senjata Iran pada Mei 2026 menjadi pemicu ketidakpastian eksistensial. Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut seperlima minyak dunia, terguncang oleh ancaman blokade. Harga minyak Brent melonjak di atas 104 Dolar AS  per barel, memicu kenaikan harga bensin dan barang pokok di seluruh dunia.

Bayangan malaise global, tiba-tiba menggebrak rasio bawah sadar. Seperti “zaman meleset” 1930-an, ketika rakyat Hindia Belanda menyebut depresi ekonomi sebagai “zaman air mata”. Kala itu harga komoditas jatuh, pengangguran merajalela, dan kemiskinan menjerat hampir setiap lapisan masyarakat. Kini, wajah baru malaise hadir dalam bentukk onflik geopolitik, krisis energi, dan inflasi global. 

Stagflasi: Kerentanan-Rawan
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bisa merosot hingga 2,5 persen tahun 2026, dengan risiko stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah—yang menghantui. Negeri Nusantara ini, kembali berada di posisi rawan. Ketergantungan pada impor energi dan bahan baku membuat ekonomi domestik mudah terguncang. 

Nilai tukar rupiah sudah menembus Rp17.500 per dolar AS per 12 Mei 2026, mengingatkan pada krisis 1998. Rakyat kecil menghadapi ancaman kenaikan harga pangan dan energi yang bisa menjerumuskan jutaan orang ke jurang kemiskinan baru.

Meski ada pengokohan diri dan harapan, misalnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia mendapatkan pasokan minyak mentah dari Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Minyak mentah tersebut dipastikan akan tiba dalam waktu dekat. Kerja sama ini juga mencakup potensi investasi Rusia dalam infrastruktur energi di Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya tetap optimis Indonesia mampu bertahan. Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat, memecahkan dampak resesi yang diragukan oleh banyak pihak. Namun optimisme teknokratis tidak cukup. Sejarah mengajarkan bahwa krisis bukan sekadar angka, akan tetapi pada saatnya harus diwaspadai bahwa efek global yang riskan dihindari serta merta. Jangan sampai menjelma menjadi penderitaan sosial yang nyata.

Malaise Penderitaan Sosial
Pada masa 1930-an, rakyat Hindia Belanda mengalami PHK massal, penurunan gaji drastis, dan kelaparan. Bung Karno menyebutnya “zaman air mata”. Kini, ancaman serupamungkin mulai hadir dalam bentuk pengangguran akibatperusahaan gulung tikar karena biaya energi tinggi. Kemiskinan meningkat karena harga pangan melonjak. Ketimpangan sosial semakin tajam: kelompok kaya mampu bertahan, sementara rakyat kecil terpuruk. Represi politik pun bisa muncul, sebagaimana pemerintah kolonial dulu memperketat kontrol terhadap rakyat.

Namun sejarah juga mencatat daya tahan baru. Di Bandung, industri tekstil kecil tumbuh pesat karena impor barang jadi menurun. Artinya, krisis bisa menjadi momentum membangun kemandirian ekonomi lokal.

Kementerian Perdagangan bahkan meresmikan GASPOL (Gerakan Kamis Pakai Lokal) pada 25 Mei 2025.Tujuannya untuk menghidupkan produk UMKM dan produk domistik. Mengingatkan kampanye “Cintailah Produk Indonesia” di ujung Orde Baru.

BPS per Mei 2026, mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 menunjukkan kinerja solid sebesar 5,61 persen (y-o-y). Industri pengolahan tumbuh 5,04 persen  Triwulan I-2026, ditopang oleh industri makanan dan minuman, barang logam, komputer, serta alat elektronik.

Filosofi ke Aksi
Kalau malaise jangka panjang benar terjadi, kita tidak cukupmenghadapinya dengan kebijakan teknis. Diperlukan narasifilosofis yang menuntun arah bangsa. Sejarah adalah ujianmoral dan spiritual, bukan sekadar ekonomi.

energi. Indonesia harus mempercepat transisienergi terbarukan. Krisis minyak global menunjukkanrapuhnya ketergantungan pada energi fosil. Investasi pada tenaga surya, angin, dan bioenergi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Revitalisasi ekonomi lokal. Seperti industri tekstil Bandung di masa Malaise, krisis bisa menjadi peluang menghidupkanUMKM. Pemerintah perlu memberi insentif pada produksilokal agar rakyat tidak sepenuhnya bergantung pada impor.

Solidaritas sosial. Gotong royong, inti budaya Indonesia, harus dihidupkan kembali. Bantuan sosial, koperasi, dan jaringan solidaritas rakyat bisa menjadi benteng menghadapibadai ekonomi.

Kebijakan berkeadilan. Pemerintah harus memastikan fiskaldan moneter berpihak pada rakyat kecil. Subsidi pangan dan energi, serta perlindungan buruh, menjadi langkah mendesakagar krisis tidak berubah menjadi tragedi sosial.
Jalan Kemandirian

Malaise bukan sekadar krisis ekonomi. Ia adalah cerminrapuhnya sistem global yang terlalu bergantung pada kekuasaan dan modal. Bung Karno menyebut masa itu“zaman air mata”, tetapi juga titik balik lahirnya kesadarannasional.

Bung Hatta menegaskan: “Krisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata kembali kehidupan bangsa dengan lebih adil dan manusiawi.”

Filosofi Jawa mengajarkan “urip iku mung mampir ngombe” (hidup hanyalah singgah untuk minum.) Artinya, krisishanyalah satu episode dalam perjalanan panjang. Yang penting bukan seberapa besar badai yang datang, melainkanseberapa kuat kapal kita bertahan.

Di Minangkabau ada peribahasa: “Duduak marawuik ranjau, tagak maninjau jarak” (warga tidak boleh apatis, tetapi terusber ikhtiar menghadapi situasi). Sejarah tidak pernah sekadarberulang; ia selalu hadir dengan wajah baru. Malaise 1930-an melahirkan penderitaan sekaligus kesadaran nasional. 

Tidak seorangpun di antara kita memimpikan Malaise 2026. Akan tetapi kalau “hantu” itu datang mungkin melahirkan penderitaan baru, tetapi juga bisa menjadi titikbalik menuju kemandirian.

Editor Friwsnews.com.