Gulai Itik lado mudo dan kue tradisonal yang laris terjual pada halal bihalal 2026 Keluarga Koto Gadang

frislidia
frislidia Kontributor
01 Mei 2026 • 175 Pembaca
Gulai Itik lado mudo dan kue tradisonal yang laris terjual pada halal bihalal 2026 Keluarga Koto Gadang
📸 Seratusan warga Koto Gadang di perantauan,di Kota Pekanbaru memperkuat silaturrahmi dalam rangkaian kegiatan Halal Bihalal Idul Fitri 2026 di Pekanbaru baru baru ini. (Foto:FN/Suaro Mudo IKKG).
olret.com

Pekanbaru-Ikatan Keluarga Koto Gadang (IKKG) yang berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, menggelar halal bihalal setiap Idul Fitri, rutinitas sekali setahun itu diwarnai dengan tradisi penjualan kue tradisional Koto Gadang. 

Kue-kue yang dijual tersebut buatan para Bundo Kanduang IKKG seperti kue Bolu Koja, kue Ruok, Gulai Itik Lado Hijau (Lauk Itiak) khas Koto Gadang, Sumbar (Minang, red)

Gulai Itiak Lado Mudo Khas Koto Gadang

Lelang kue-kue tersebut, biasanya dipatok dengan harga mencapai Rp150 ribu-Rp300 ribu, namun panitia acara yang didominasi Suaro Mudo  (anak anak muda, red)  kini mengemas  kue-kue tersebut berbentuk kemasan kecil tentu harga makin terjangkau. Bahkan beberapa hari sebelum kue dilelang sudah dibuka pesanan. 

"Karena kemasan produksi kue-kue tersebut kecil, tentu harganya makin terjangkau sehingga banyak yang meminatinya. Warga Koto Gadang dalam acara Halal Bihalal itu makin berminat membeli tentu rasa kue sangat enak dan tidak bercampur pemanis  buatan atau pengawet berbahan makanan," katanya.

Jadi ketika halal bihalal digelar, maka para pemesan sudah siap menerima kue-kue mereka termasuk gulai Itiak Lado hijau itu. Lelang kue-kue asal Koto Gadang sekaligus sebagai sarana untuk mengumpulkan donasi guna membiayai kegiatan. 

Kue-kue tersebut makin laris, bahkan masih ada yang memesan untuk di buatkan lagi.  Kue-kue yang dilelang tersebut tentu diproduksi oleh Bundo Kanduang,  warga Koto Gadang juga.

Jadi halal bihalal ini, kata Ketua IKKG,  Ir.Sutan Lazrisyah, MT,  selain ajang bermaaf-maafan setelah sebulan berpuasa, memperkuat silaturrahmi sekaligus memperkenalkan warga baru itu sudah mentradisi.

Acara ini terus lestari lebih karena para Tetuo (Inyiak, Datuak) mengingatkan anak-anak mereka, dan keponakan atau cucu beberapa bulan sebelum acara agar jangan lupa menggelar halal bihalal itu. 

Suaro Mudo
Menurut Sutan Lazrisyah  acara yang digelar tiap tahun itu berlangsung lancar sesuai dengan yang direncanakan, makanan juga tersedia banyak variasi dan dalam jumlah cukup begitu juga pendanaan. 

"Untuk pendanaan juga ada peningkatan, dan penjualan makanan Koto Gadang dengan sistem yang sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Ada penurunan pemasukan dari donatur, atau ada defisit penerimaan. Kegiatan ini dikelola oleh Suaro Mudo," katanya.

Suaro Mudo" adalah sebutan bagi generasi muda dari Keluarga Koto Gadang, di antaranya Satria, Abi, Gina, Nurul,  Ryan, Nadia,  Zaki dan  Zhea yang telah bekerja keras dan cepat untuk memastikan acara tersebut tetap bisa digelar. 

"Kedepan insyaallah jumlah Suaro Mudo yang terlibat semoga bisa lebih banyak dan persiapan bisa dibuat bisa lebih awal.  Semangat pengorbanan mereka dalam waktu, pikiran dan tenaga untuk kemajuan IKKG Pekanbaru sangat membanggakan kaum yang tuo-tuo (tua, red), ini. Mereka bekerja tanpa pamrih,  tetap semangat," demikian Sutan Lazrisyah. (fn).