Dr.Buyung Kurniawan: Keberadaan organisasi kampus baru perlu konsep budaya kerja berintegritas

Frislidia
Frislidia Pemred
05 Juli 2026 • 52 Pembaca
Dr.Buyung Kurniawan: Keberadaan organisasi  kampus baru perlu konsep budaya kerja berintegritas
📸 Praktisi pendidikan sekaligus Pembina Yayasan di Politeknik Pengadaan Nasional (Polteknas) Pekanbaru, Dr Buyung Kurniawan. (Foto:FN/Dok. Humas Polteknas).

Pekanbaru- Praktisi pendidikan sekaligus Pembina  Yayasan di Politeknik Pengadaan Nasional (Polteknas) Pekanbaru, Dr Buyung Kurniawan mengatakan  persoalan organisasi pada kampus baru memerlukan konsep dan proses pembentukan sistem, budaya kerja, dan tata kelola yang berintegritas.   

"Karena itu persoalan organisasi pada kampus baru ini sekaligus berkaitan dengan kepemimpinan, budaya organisasi, pengambilan keputusan, perubahan organisasi, motivasi kerja, disiplin kerja, kinerja karyawan, komunikasi organisasi, konflik kerja, dan koordinasi antarbagian," kata Dr. Buyung Kurniawan kepada frisnews.com di Pekanbaru, Minggu. 

Telaah tersebut disampaikannya terkait dirinya  sebagai mahasiswa program studi  Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Unilak, Riau, dengan dosen pembimbing Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M,  dalam mata kuliah Teori Manajemen & Organisasi.

Menurut Dr Buyung Kurniawan persoalan organisasi pada kampus baru perlu dibaca sebagai proses pembentukan sistem, budaya kerja, dan tata kelola yang berintegritas. 

"Politeknik Pengadaan Nasional sebagai institusi baru menghadapi tantangan dalam menyelaraskan visi, standar operasional prosedur (SOP), nilai P.A.T.E.N, integritas, dan praktik kerja harian. Tantangannya adalah memastikan nilai profesional, aktif, tanggung jawab, energik, dan nasionalisme tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi perilaku nyata dalam proses akademik, administrasi, dan tata kelola pengadaan barang/jasa,"  katanya. 

Isu ini, katanya menekankan, perlu disampaikan secara hati-hati karena tujuannya bukan mencari kesalahan, melainkan membangun perbaikan organisasi.

Sementara itu yang menjadi akar masalah tentu berkaitan pertama  sistem penghargaan dan sanksi yang belum jelas, kedua SOP dan mekanisme kerja yang masih perlu disempurnakan, ketiga pengawasan dan umpan balik kinerja yang belum konsisten.

Keempat,  pembentukan perilaku kerja berintegritas yang masih membutuhkan keteladanan dan pembelajaran dan kelima  keterbatasan pengetahuan organisasi karena kampus masih baru. 

"Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesenjangan antara visi dan implementasi, rendahnya disiplin, lemahnya rasa memiliki, serta risiko penyimpangan dalam bidang pengadaan barang/jasa," katanya.

Ia menjelaskan dampak yang muncul dari permasalahan tersebut yakni  kualitas kerja sivitas akademika belum merata, lulusan berisiko belum memiliki kompetensi dan integritas yang kuat, kepercayaan mitra dapat menurun jika tata kelola tidak berjalan baik, konflik internal dapat muncul akibat sistem kerja yang belum jelas, dan reputasi institusi dapat terganggu apabila nilai integritas tidak tertanam dalam perilaku organisasi.

Untuk memperkuat gagasan tersebut, Dr. Buyung Kurniawan mengaitkan persoalan tersebut dengan Control Theory, Social Cognitive Theory, Structural Contingency Theory, dan Knowledge-Based Theory atau  teori kontrol, teori kognitif sosial, teori kontingensi struktural, dan teori berbasis pengetahuan.

"Teori kontrol digunakan untuk memahami pentingnya standar kinerja, monitoring, umpan balik, dan tindakan korektif agar standar operasional prosedur,  penghargaan, sanksi, serta disiplin kerja berjalan konsisten. Sedangkan teori kognitif sosial mencermati perilaku berintegritas dapat dibentuk melalui pembelajaran sosial, keteladanan pimpinan, pengamatan terhadap perilaku rekan kerja, serta penguatan atas perilaku yang sesuai nilai organisasi," katanya. 

Berikutnya teori kontingensi struktural, menunjukkan bahwa struktur, prosedur, dan pembagian kewenangan Polteknas harus disesuaikan dengan kondisi sebagai kampus baru yang bergerak di bidang pengadaan barang/jasa yang menuntut transparansi dan akuntabilitas. 
Sedangkan teori berbasis pengetahuan, menekankan bahwa pengetahuan tentang PBJ, etika, SOP, regulasi, dan praktik akademik perlu dikelola, dibagikan, dan dilembagakan agar tidak hanya bergantung pada individu tertentu.

Solusi yang paling realistis, kata Dr. Buyung Kurniawan lagi, perbaikan perlu dilakukan secara bertahap melalui penyusunan SOP yang jelas dan mudah dipaham, penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang adil,  penguatan monitoring, evaluasi, dan umpan balik kinerja,  keteladanan pimpinan dalam menerapkan nilai P.A.T.E.N dan integritas.

"Pembentukan forum berbagi pengetahuan mengenai PBJ, etika, dan tata kelola kampus, serta penyesuaian struktur kerja agar sesuai dengan kebutuhan institusi baru. Solusi tersebut perlu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan pihak tertentu, dan dapat diterima oleh seluruh pihak yang terlibat," kata Dr. Buyung.

Dr. Chandra, S.T., M.M sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, memandang bahwa gagasan Dr. Buyung Kurniawan dinilai menjadi lebih kuat ketika dikaitkan langsung dengan teori-teori organisasi dalam buku Miles.

Ia menilai bahwa Control Theory membantu memastikan standar dan pengawasan berjalan, Social Cognitive Theory menjelaskan pentingnya teladan dan pembelajaran perilaku, Structural Contingency Theory menekankan kesesuaian struktur dengan kebutuhan kampus baru, sedangkan Knowledge-Based Theory menegaskan pentingnya pengelolaan pengetahuan PBJ dan integritas. 

"Dengan kerangka tersebut, Polteknas dapat membangun budaya organisasi yang bukan hanya simbolik, tetapi juga nyata dalam sistem, perilaku, pembelajaran, dan tata kelola," demikian Dr. Chandra.