Riau pulihkan ekosistem gambut seluas 451.000 hektare selama 8 tahun

Frislidia
Frislidia Pemred
30 September 2026 • 0 Pembaca
Riau pulihkan ekosistem gambut seluas 451.000 hektare selama 8 tahun
📸 Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, sata mengecek program realisasi program pemulihan eskosistem gambut di Riau. (Foto:FN/HO-Humas Pemrov Riau).
Pekanbaru- Seluas 451 hektare lahan gambut di Riau sudah menjalani pemulihan ekosistem  sejak 2016-2024 tahun penyelenggaraan  program restorasi berlangsung guna memperkuat restorasi kawasan, pembangunan infrastruktur tata air, revegetasi, hingga pengembangan ekonomi masyarakat. 

"Capaian tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem gambut, dan kawasan yang telah dipulihkan tetap membutuhkan pengawasan dan pemeliharaan secara berkelanjutan," kata  Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, kepada media di Pekanbaru, Rabu. 

Menurut dia,  proses pemulihan gambut di Riau juga didukung dengan perencanaan perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut di tingkat provinsi  hingga kabupaten, seperti Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. 

Pada tingkat tapak, katanya, sejumlah infrastruktur pendukung restorasi juga telah dibangun untuk menjaga kondisi hidrologis kawasan gambut, dan infrastruktur pendukung tersebut meliputi sekat kanal dan sumur bor yang menjadi bagian dari upaya menjaga tata air kawasan.

"Pembangunan infrastruktur pendukung tersebut bersamaan dengan revegetasi dan revitalisasi ekonomi masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan gambut berkaitan dengan aspek ekologis,  juga menyentuh keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan," katanya.

Di tingkat tapak, katanya lgi, infrastruktur pendukung yang telah dibangun meliputi 2.077 unit sekat kanal dan 1.125 unit sumur bor. Dilakukan revegetasi sekitar 390 hektare, serta 291 paket revitalisasi ekonomi masyarakat. 

Karena itu keberlanjutan kawasan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang berada paling dekat dengan ekosistem gambut.
Peran masyarakat penting seperti Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Peduli Gambut, dan orang-orang yang setiap hari berada paling dekat dengan kawasan ini. 

"Anda sekalianlah yang paling memahami kondisi lapangan dan bergerak nyata untuk menjaga yang telah kita pulihkan," katanya.

Sementara itu pengalaman restorasi di Tanjung Leban tidak berhenti sebagai keberhasilan di satu lokasi dan  praktik yang telah berjalan di kawasan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pengelolaan gambut di wilayah Riau lain.