Dr Buyung Kurniawan: Seseorang gagal berkinerja optimal lebih dipicu faktor internal dan eksternal
Pekanbaru- Pemerhati masalah psikologi pendidikan dari Politekhnik Nasional (Polteknas) Pengadaan Barang dan Jasa, Pekanbaru, Riau Dr Buyung Kurniawan M.Pd mengatakan beberapa mahasiswa gagal belajar, anggota organisasi lembaga pendidikan, gagal beradaptasi, atau tidak mampu menunjukkan kinerja yang optimal antara lain dipicu oleh permasalahan internal dan eksternal.
"Permasalahn internal dari sekolah, organisasi, atau kampus, lebih akibat rendahnya efikasi diri, motivasi kerja rendah, sulit beradaptasi dengan perubahan dan kurang percaya diri. Sedangkan permasalahan eksternal antara lain karena kepemimpinan yang tidak memberikan teladan, budaya organisasi negatif, kurang pengahrgaan dan sitem pelatihan yang kurnag efektif," kata Dr Buyung Kurniawan kepada frisnews.com di Pekanbaru, Selasa.
Pendapat tersebut disandingkannya dengan teori kognitif sosial bahwa premis utama tindakan manusia disebabkan oleh tiga faktor yang saling berinteraksi yakni perilaku, faktor kognitif dan faktor pribadi lain, serta lingkungan eksternal seseorang.
Menurut dia, ketiga faktor tersebut tidak saling memengaruhi secara bersamaan atau dengan kekuatan yang sama, mereka juga tidak saling memengaruhi secara instan baik dilingkungan sekolah, kampus, pada kalangan dosen, atau manajemen pendidikan tinggi.
"Waktu harus berlalu agar masing-masing dari ketiga faktor tersebut dapat memberikan pengaruh dan menerima pengaruh sebagai balasannya. Ketiga faktor tersebut saling memengaruhi secara dua arah, sehingga mahasiswa, dosen, penggiat organisasi mahasiswa, adalah produsen dan produk dari lingkungannya sendiri," katanya.
Teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Bandura, menurut Buyung, merupakan terobosan dari pendekatan behavioris, yang menyatakan bahwa lingkungan sekolah, kampus, atau organisasi pendidikan tinggi menyebabkan perilaku.
Para behavioris, katanya, mengabaikan fungsi manusia karena mereka berasumsi bahwa fungsi tersebut disebabkan oleh rangsangan eksternal dan Bandura berpendapat bahwa lingkungan tidak hanya menyebabkan perilaku, tetapi perilaku juga membantu membentuk lingkungan kampus, sekolah atau lingkungan lembaga pendidikan lain, dalam proses yang ia sebut "determinisme timbal balik" (1986).
Selain itu, Buyung juga menjelaskan tentang permasalahan dalam Teori Kognitif Sosial adalah bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi.
"Permasalahan utama yang diangkat teori ini adalah bahwa perilaku manusia tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan seperti yang dijelaskan teori behavioristik. Perilaku juga dipengaruhi oleh proses berpikir (kognitif), keyakinan diri, pengalaman, dan tindakan individu itu sendiri," katanya.
Banyak individu kampus, dosen, dan anggota organisasi manapun juga, katanya pula, sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi tidak yakin terhadap kemampuan tersebut sehingga enggan mencoba, mudah menyerah, dan takut gagal.
Mirisnya, katanya lagi, pembelajaran observasional justru tidak selalu berhasil. Seseorang maias belajar melalui pengamatan terhadap orang lain, akan tetapi tidak semua orang mampu meniru perilaku yang diamati.
"Seseorang mudah menyerah lebih juga akibat lingkungan kerja tidak selalu mendukung perubahan perilaku. Lingkungan organisasi kampus atau sekolah atau organisasi lain-lain yang kurang kondusif dapat menghambat seseorang menerapkan perilaku positif yang telah dipelajari," katanya.
Perlu penguatan (reinforcement), katanya sebab perilaku baru akan bertahan apabila diberikan penguatan positif, bukan pengaruh model atau teladan yang buruk, sebab individu cenderung meniru orang yang dianggap berhasil atau berpengaruh.
Karena itu Buyung menekankan setiap pribadi/individu harua mampu memastikan bahwa dirinya akan mencontohkan perilaku yang tepat dari orang yang tepat. Waspadai keyakinan efikasi diri negatif dari diri sendiri.
"Jika sesorang mulai meragukan diri sendiri, maka kinerja mereka mungkin akan menurun, karena itu jangan biarkan kritik diri merusak kinerja kampus, atau organisasi nir laba lain misalnya . Ingatlah untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika kita bisa berkinerja dengan sukses," katanya.
Buyung juga mencermati kembali teori dikembangkan Bandura bahwa proses psikologis seseorang, atau kognisi, ke dua faktor lainnya yakni lingkungan dan perilaku yang secara timbal balik menentukan tindakan personil guru, dosen atau mahasiswa.
Ia menyetujui pendapat Bandura bahwa personil guru, dosen, pemerhati bukan hanya pengamat tubuh mereka sendiri saat menghadapi peristiwa lingkungan. Sebaliknya, mereka adalah agen dari diri sendiri dan dari pengalaman mereka sendiri.
Ciri-ciri agensi pribadi
Buyung menjelaskan bahwa ciri-ciri inti dari agensi pribadi adalah intensionalitas, pertimbangan ke depan, reaktivitas diri, dan refleksi diri. Intensionalitas mengacu pada komitmen proaktif untuk mewujudkan tindakan di masa depan.
"Pertimbangan ke depan berarti memiliki perspektif waktu di masa depan di mana individu mengantisipasi kemungkinan konsekuensi dari tindakan prospektifnya. Reaktivitas diri ini adalah kemampuan yang disengaja untuk membuat pilihan dan rencana, membentuk tindakan yang tepat, dan memotivasi serta mengatur pelaksanaannya," katanya.
Sementara itu refleksi diri mengacu pada pemeriksaan diri terhadap fungsi diri sendiri, atau kemampuan metakognitif (Bandura, 2001). Masih mencermati teori Bandura tersebut, kata Buyung pula, bahwa orang dapat belajar secara tidak langsung melalui pengamatan kompetensi orang lain (Bandura, 1997; Wood & Bandura, 1989).
"Pembelajaran observasional terdiri dari empat proses konstituen, perhatian, retensi, produksi, dan motivasi (Bandura, 1986). Aktivitas proses perhatian meliputi memilih perilaku yang akan diamati, mempersepsikan perilaku tersebut secara akurat, dan mengekstrak informasi tentang perilaku tersebut. Aktivitas proses retensi meliputi, mengingat, menyimpan, dan secara aktif melatih kembali perilaku yang telah diingat," katanya.
Aktivitas proses produksi, lanjutnya, meliputi melakukan perilaku yang baru dimodelkan dan mendapatkan umpan balik tentang keberhasilan atau kegagalan tindakan tersebut. Aktivitas proses motivasi meliputi:insentif positif untuk melakukan perilaku yang baru dipelajari, seperti penguatan masa lalu, penguatan yang dijanjikan, insentif eksternal, insentif tidak langsung, dan insentif diri.
Terdapat juga motivasi negatif untuk melakukan sesuatu, seperti hukuman masa lalu, ancaman atau hukuman yang dijanjikan, dan hukuman tidak langsung. Penguatan positif cenderung lebih efektif daripada penguatan negatif (yang seringkali dapat berbalik merugikan pemberi hukuman).
"Teori ini justru membedakan antara sekadar memperoleh informasi dan secara aktif melakukan perilaku baru, karena orang tidak melakukan semua yang mereka pelajari. Orang sering kali melakukan perilaku yang baru dimodelkan tanpa imbalan langsung, tetapi mereka mungkin tidak akan terus melakukan perilaku tersebut di masa depan tanpa penguatan untuk melakukannya (Bandura, 1986)," katanya.
Permasalahan organisasi
Buyung mengatakan bahwa berdasarkan Teori Kognitif Sosial, terdapat dua permasalahan organisasi yakni sekolah, kampus atau perguruan tinggi berasal dari individu dalam organisasi (internal) dan permasalahan eksternal (berasal dari lingkungan organisasi).
"Perilaku karyawan, anggota organisasi, dosen, pimpinan perguruan tinggi swasta dan negeri merupakan hasil interaksi antara faktor pribadi (kognitif), perilaku, dan lingkungan. Oleh karena itu, apabila salah satu faktor tidak mendukung, maka akan muncul berbagai pain point dalam organisasi tersebut," katanya.
Sedangkan dimaksud dengan Permasalahan Internal Organisasi (Internal Pain Points), masalah cenderung berasal dari individu atau sumber daya manusia dalam organisasi, meliputi rendahnya efikasi diri, dimana banyak karyawan memiliki kompetensi, tetapi tidak percaya pada kemampuan dirinya sehingga enggan mengambil tanggung jawab atau tantangan baru.
"Semua teori dalam penelitian ini, bakal dikembangkan bagi kemajuan Polteknas Pengadaan Barang dan Jasa, Pekanbaru, sekaligus menjadi strategi bagi manejemen untuk meningkatkan kualitas kampus pertama di indonesia itu yang menggelar perkuliahan tentang pengadaan barang dan jasa ini ke depan bakal memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dalam mengelola kampus," demikian Dr Buyung.
Editor:frisnews.com