Nilai ekspor Riau periode Januari-Juni 2026 sebesar 10,49 miliar Dolar AS
Pekanbaru- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat nilai ekspor Riau periode Januari–Juni 2026 sebesar 10,49 miliar Dolar AS atau mengalami kenaikan sebesar 3,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang hanya 10,14 miliar dolar AS.
Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi kepada media di Pekanbaru, Selasa menyebutkan, peningkatan ekspor Januari–Juni 2026 dibanding periode tahun lalu disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas 6,99 persen dari 9,49 miliar Dolar AS menjadi 10,15 miliar Dolar AS,
"Sedangkan ekspor migas turun 48,30 persen, yaitu dari 653,77 juta dolar AS menjadi 337,97 juta dolar AS. Penurunan ekspor migas
disebabkan oleh menurunnya ekspor industri pengolahan hasil minyak 38,91 persen menjadi 282,79 juta dolar AS, begitu juga ekspor minyak mentah turun 71,09 persen menjadi 55,18 juta dolar AS," katanya.
Sementara itu ekspor Riau pada Juni 2026 tercatat hanya 1,89 miliar dolar AS atau turun 5,35 persen dibanding Juni 2025. Demikian juga dengan ekspor migas turun 100,00 persen dan ekspor nonmigas turun 2,29 persen menjadi 1,89 miliar dolar AS.
Negara tujuan
Pada periode yang sama (Januari–Juni 2026), Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor yang memiliki peranan terbesar yaitu sebesar tercatat sebesar 1.925,04 juta dolar AS (18,97 persen), diikuti oleh India 839,17 juta dolar AS (8,27 persen), dan Malaysia 800,61 juta dolar AS (7,89 persen).
Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN dan Uni Eropa pada periode tersebut kontribusinya masing-masing 17,76 persen dan 11,01 persen. Total nilai ekspor nonmigas Januari–Juni 2026 ke 13 negara tujuan mencapai 7.572,09 juta dolar AS atau naik 310,42 juta dolar AS (4,27 persen) dibanding periode tahun sebelumnya.
"Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor ke sebagian besar negara tujuan utama seperti Tiongkok 320,05 juta dolar AS (19,94 persen), Pakistan 79,53 juta dolar AS (18,05 persen), dan Amerika Serikat 62,88 juta dolar AS (13,04 persen)," katanya.
Sementara itu negara yang mengalami penurunan adalah Bangladesh 110,62 juta (19,05 persen), India 94,59 juta (10,13 persen), Mesir
56,84 juta (13,87 persen), Belanda 27,49 juta (5,28 persen) dan Filipina 18,63 juta dolar AS (6,07 persen).