Menko PM: 23 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan santri harus tingkatkan keterampilan

Frislidia
Frislidia Pemred
22 Oktober 2026 13:32 WIB • Diperbarui: 22 Oktober 2026 20:36 WIB • 4 Pembaca
Menko PM: 23 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan santri harus tingkatkan keterampilan
📸 Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin saat membuka resmi peringatan Hari Santri Nasional, di Pekanbaru, Kamis. (Foto:FN/HO-HumasPemrov Riau).

Pekanbaru- Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, mengatakan 23 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan, masalah ini menjadi tanggungjawab bersama untuk mengentaskan kemiskinan termasuk para santri.

"Karena itu santri harus mampu meningkatkan pengetahuan, teknologi dan kemampuan diri, agar kita terus mempersiapkan diri menjadi bangsa yang unggul, menjadi generasi emas yang siap bersaing secara internasional," kata Muhaimin saat membuka peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Kamis. 

Menurut dia santri juga harus memperkuat kemandirian nasional di tengah perubahan geopolitik, persaingan ekonomi dunia, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi secara global.

Sebab nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, seperti kejujuran dan ketangguhan, katanya justru dapat menjadi bekal bagi santri untuk menghadapi tantangan sekaligus memperkuat kemampuan bangsa agar tidak terus bergantung pada negara lain.

"Santri insyaallah pasti jujur, santri insyaallah pasti tangguh, dan santri insyaallah tidak mudah goyah oleh berbagai tantangan," katanya. 

Menurut Muhaimin tiga prinsip yang perlu diterapkan santri dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mengambil peran aktif dalam menjaga persatuan umat Islam dan keutuhan bangsa.

Kedua, terus meningkatkan kualitas diri melalui proses belajar, mengembangkan potensi, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ketiga, menjadikan nilai-nilai yang dicontohkan kiai, ulama, dan santri sebagai pedoman dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketiga prinsip tersebut dapat menjadi landasan untuk menghadapi keterbatasan dan mengatasi ketertinggalan. Dengan bekal ilmu dan karakter yang kuat, santri diharapkan mampu berkontribusi lebih luas dalam pembangunan nasional.

"Dengan tiga komitmen ini, kita akan terus menerobos berbagai belenggu keterbatasan, menolak dan mengatasi segala bentuk ketertinggalan," katanya.

Ia berharap santri senantiasa menjaga keselarasan antara hati, pikiran, dan perbuatan agar nilai-nilai Islam tercermin dalam sikap serta tindakan mereka.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri merupakan momentum penting untuk meneguhkan peran pesantren dalam membangun generasi penerus bangsa yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia.

"Dari pesantren, lahir generasi berilmu. Dari keteladanan guru dan kiai, tumbuh pribadi yang berakhlak mulia. Dari semangat para santri, terpatri kecintaan kepada agama, bangsa, dan negara. Mari jadikan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan siap menjawab tantangan zaman,” demikian Muliardi.



Pedoman & Standar Etik: Artikel ini disusun sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS) dan Kode Etik Jurnalistik.

Apabila pembaca menemukan kekeliruan data atau ingin menyampaikan hak koreksi/hak jawab, silakan hubungi redaksi melalui Susunan Redaksi atau email frisnews1@gmail.com.