Investasi Riau peringkat 3 di Sumatera, Rp12,85 Triliun triwulan I 2026
Pekanbaru-Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau membukukan total realisasi investasi pada Triwulan I tahun 2026 mencapai Rp12,85 triliun hingga menempatkan Riau peringkat 3 di Sumatera.
"Riau peringkat 3 di Sumatera, atau peringkat ke-15 secara nasional, kondisi ini menunjukkan daya tahan daerah ini yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global, dan Riau menjadi daerah yang menarik bagi investor dalam dan luar negeri," kata Kepala DPMPTSP Riau, Vera Angelika kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis.
Menurut dia, pada tingkat regional Sumatera, Riau bahkan mencatat posisi yang lebih kuat, peringkat ke-3 untuk PMDN dan PMA.
Sedangkan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), katanya menyebutkan, Riau berada di peringkat ke-10 dengan nilai Rp9,6 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai 197,01 juta dolar AS atau setara Rp3,25 triliun.
"Kontribusi investasi masih didominasi wilayah strategis. Kota Dumai menjadi penyumbang terbesar dengan Rp3,05 triliun (23,70 persen), diikuti Kota Pekanbaru Rp2,55 triliun (19,88 persen)," katanya.
Selanjutnya Kabupaten Indragiri Hilir Rp1,74 triliun (13,56 persen), Kabupaten Rokan Hilir Rp1,13 triliun (8,82 persen), dan Kabupaten Pelalawan Rp1,04 triliun (8,14 persen).

Dari sisi investor asing, sebutnya lagi, Singapura masih menjadi mitra utama dengan kontribusi 70,77 persen atau sekitar Rp2,3 triliun. Disusul Malaysia, serta Bermuda, Seychelles, dan Kepulauan Virgin Inggris.
Sektor usaha yang menjadi penopang utama investasi mencerminkan kekuatan struktur ekonomi Riau, yakni industri makanan Rp2,825 triliun (21,98 persen), tanaman pangan, perkebunan dan peternakan Rp2,24 triliun (17,46 persen).
Kemudian, industri kimia dan farmasi Rp1,83 triliun (14,21 persen), perumahan dan kawasan industri Rp1,12 triliun (8,75 persen), serta pertambangan Rp1,05 triliun (8,17 persen). Kelima sektor ini menyumbang lebih dari 70 persen total investasi.
"Ke depan Riau fokus pada penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah," katanya.
Karena itu pihaknya terus mendorong pengembangan industri hilir. Saat ini DPMPTSP bersama perangkat daerah tengah mengidentifikasi produk-produk hilir dari perusahaan PMA dan PMDN, agar Riau semakin kuat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah dan ekonomi hijau.
Optimisme juga diperkuat dengan sejumlah proyek strategis yang sedang berjalan seperti kelanjutan Tol Lingkar Pekanbaru ruas Rengat–Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul, serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt di Pulau Rangsang.
"Proyek-proyek ini akan menjadi pengungkit investasi ke depan, memperkuat konektivitas, menarik industri pengolahan, serta mendukung transisi energi bersih di Riau, dan tentu harus didukung dengan peningkatan kualitas layanan publik melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia," katanya.
Dengan pelayanan yang semakin prima,katanya lagi, pihaknya optimistis iklim investasi akan semakin kondusif, dunia usaha berkembang, dan peluang kerja bagi masyarakat terus terbuka. (fn)
