Menag: Masjid harus menjadi titik temu peradaban
Riau- Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa masjid selain berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, juga harus berkembang menjadi titik temu (meeting point) peradaban umat, pusat pencerahan, penguatan umat, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
"Di mana ada masjid, di situ ada keberkahan, ada kerumunan malaikat, tempat berkumpulnya para hamba Allah. Masjid harus menjadi titik temu peradaban umat," kata Menteri Agama saat meresmikan Masjid Amal Ikhlas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, di Jalan Sudirman Pekanbaru, Riau, Sabtu (27/6).
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dilanjutkan dengan pembukaan selubung nama Masjid Amal Ikhlas sebagai tanda resmi beroperasinya masjid tersebut.
Menteri Agama bersyukur atas bertambahnya rumah Allah di pusat Kota Pekanbaru dan keberadaan Masjid Amal Ikhlas menjadi penanda lahirnya ruang baru bagi penguatan spiritual dan peradaban umat.
Hari ini, katanya, bertambah lagi rumah Allah SWT di jantung Kota Pekanbaru dan bertambah lagi satu bintang kejora yang akan menerangi kehidupan umat.
"Semoga Masjid Amal Ikhlas tidak hanya ramai saat pelaksanaan salat berjamaah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan intelektual dan pengembangan wawasan keislaman. Karena, masyarakat saat ini semakin memiliki ketertarikan untuk mendalami ilmu agama, termasuk berbagai kajian tentang mukjizat Al-Qur'an," katanya.
Selain itu Menag menekankan pada jajarannya untuk menggelar diskusi-diskusi ilmiah, mengundang para pakar, karena masyarakat saat ini semakin tertarik mendalami mukjizat Al-Qur'an. Masjid harus menjadi pusat pencerahan, pusat kecerdasan, dan pusat moderasi umat.
Menteri Agama juga mengingatkan bahwa sejarah peradaban Islam menunjukkan fungsi masjid yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah ritual.
"Kalau kita melihat perjalanan Rasulullah SAW, beliau tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga memberikan perhatian besar pada penguatan dan pemberdayaan umat lainnya, seperti untuk membangun, menguatkan, dan memberdayakan umat. Karena itu, masjid harus menjadi pusat penguatan umat," jelasnya.
Membangun masjid, katanya pula, sejatinya adalah membangun masa depan peradaban umat. Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga. Karena itu, membangun masjid bukan sekadar membangun bangunan, tetapi membangun peradaban.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Dr. H. Muliardi, M.Pd melaporkan bahwa pembangunan Masjid Amal Ikhlas didanai dari anggaran yang berhasil dihimpun secara gotong royong seluruh elemen.
"Masjid Amal Ikhlas dibangun dari dana swadaya ASN Kementerian Agama, dukungan masyarakat, dan para donatur yang memiliki semangat yang sama dalam membangun rumah Allah," jelas Muliardi.
Ia berharap keberadaan Masjid Amal Ikhlas dapat menjadi simbol pengabdian dan integritas ASN Kementerian Agama dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu Muliardi menyampaikan terima kasih kepada Menteri Agama RI atas dukungan dan perhatian terhadap pembangunan serta pengembangan kehidupan keagamaan di Provinsi Riau.
Selanjutnya Menteri Agama meninjau seluruh area Masjid Amal Ikhlas, sekaligus melihat fasilitas dan sarana prasarana pendukung kegiatan ibadah, kajian keagamaan, dan aktivitas pembinaan umat.
Peresmian juga disaksikan perwakilan Pemerintah Provinsi Riau, para pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Kanwil Kemenag Riau, pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI), Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru, para Kepala Madrasah Negeri se-Kota (rls)